Naifah Khairunnisa Imtiyaz. 21 tahun. Pemalang, 24
Juni 1995. Mahasiswa Program Studi Pendidikan Tata Busana Fakultas Teknik
Universitas Negeri Jakarta angkatan 2014 (tahun ke -3 / semester 5). Merupakan
putri sulung 4 bersaudara dari pasangan Sumaryono dan Eli Muflianah. Orang tua
yang berdomisili di Kabupaten Tegal Provinsi Jawa Tengah, menjadikan saya
sebagai perantau di Jakarta untuk menuntut ilmu di Universitas Negeri Jakarta.
Saya memiliki 3 orang adik, Naufal Muhadzib rafif yang telah menjadi mahasiswa
tingkat awal di Universitas Indonesia, Hilmi Rafiid Muttaqi yang sedang duduk
di bangku kelas 5 Sekolah Dasar, dan Najwa Khafidzah Tsafitri yang sedang duduk
di bangku kelas 3 Sekolah Dasar menjadikan beban yang cukup untuk dipikul orang
tua dalam menyekolahkan anak-anaknya.
Menuntut ilmu di bidang Pendidikan Tata Busana /
Pengembangan Fashion bukanlah tanpa tantangan, baik tantangan moral hingga
materil menjadi sesuatu yang harus dihadapi. Biaya pendidikan per semester yang
cukup tinggi dengan kemampuan financial yang serba pas-pasan dan biaya
pembelian bahan praktek yang jumlahnya tidak sedikit turut memberi warna dalam
kegiatan belajar saya.
Orang tua yang bertekad untuk menyekolahkan anak-anaknya
ke jenjang yang lebih tinggi menjadi tantangan besar untuknya dalam melewati
hari demi hari pemenuhan kebutuhan hidup kami sekeluarga. Ada dua beban biaya per semester yang harus
orang tua tanggung, belum lagi biaya hidup harian kedua anaknya yang sebagai
perantau. Kehidupan sederhana dan prihatin menjadi didikan orang tua sejak dulu.
Walaupun harus dengan berhutang untuk memenuhi kebutuhan hidup kami, orang tua
tetap bertekad pendidikan tinggi bagi anak-anaknya.
Berlatar belakang keluarga yang sederhana mendidik
diri saya untuk terus mengembangkan potensi wirausaha. Terus berusaha meski
sering jatuh. Bidang fashion merupakan bidang yang saya tekuni, sesuai dengan
pendidikan yang sedang saya tempuh.
Menjadi guru SMK Tata Busana adalah goal dari pendidikan
S1 saya ini. Banyak kemampuan dan kompetensi dasar yang harus di gali dan
dipersiapkan untuk menjadi guru. Mendidik bukanlah perkara mudah, namun bukan
juga perkara yang tidak dapat dilakukan, semua berdasarkan kemauan dan kerja
keras.
Dibesarkan dilingkungan guru menjadikan saya sedikit
tahu tentang kependidikan sebelum akhirnya belajar dengan massif di universitas
ini. Menjadi pengajar yang berwirausaha adalah cita cita saya. Guru / dosen
yang inspiratif karena pengalaman hidupnya mampu memberi pendidikan, tauladan
dan motivasi tersendiri bagi anak didiknya. Belajar keterampilan menjahit,
craft, dan keterampilan tangan lainnya di kampus, menjadi bekal untuk saya yang
juga dapat mengajar di lingkungan non formal, baik untuk ibu-ibu rumah tangga maupun
remaja.
Di dalam agenda mata kuliah kampus, ada hal menarik
yang juga saya pelajari yaitu bagaimana memanajemen banyak hal dalam industry
bidang fashion, seperti konveksi dan garmen. Memilih garmen sebagai tempat
PKL/magang bukanlah tanpa alasan. Alasan utama adalah agar saya dapat belajar
secara langsung bagaimana setiap bagian pekerja di garmen menjalankan
fungsinya. Dan besar harapan saya dikemudian hari mampu memilki garmen yang
dapat menjadi mata pencaharian bagi masyarakat sekitar
Pelatihan kepemimpinan, kewirausahaan, hingga
parenting, dengan senang hati saya ikuti sungguh-sungguh. Hal itu merupakan
kebutuhan wajib saya sebagai saya yang akan mewujudkan banyak hal. Bukan hal
besar pengabdian diri saya ini, tetapi akan menjadi konstribusi terbesar saya
saat mampu memberi sedikit solusi bagi permasalahan masyarakat Indonesia.
Keyword
: Baituzzakah Pertamina , Beasiswa Bazma
2016, Scholarship Baituzzakah Pertamina