Minggu, 25 September 2016

Konstribusi Saya Bagi Indonesia

Naifah Khairunnisa Imtiyaz. 21 tahun. Pemalang, 24 Juni 1995. Mahasiswa Program Studi Pendidikan Tata Busana Fakultas Teknik Universitas Negeri Jakarta angkatan 2014 (tahun ke -3 / semester 5). Merupakan putri sulung 4 bersaudara dari pasangan Sumaryono dan Eli Muflianah. Orang tua yang berdomisili di Kabupaten Tegal Provinsi Jawa Tengah, menjadikan saya sebagai perantau di Jakarta untuk menuntut ilmu di Universitas Negeri Jakarta. Saya memiliki 3 orang adik, Naufal Muhadzib rafif yang telah menjadi mahasiswa tingkat awal di Universitas Indonesia, Hilmi Rafiid Muttaqi yang sedang duduk di bangku kelas 5 Sekolah Dasar, dan Najwa Khafidzah Tsafitri yang sedang duduk di bangku kelas 3 Sekolah Dasar menjadikan beban yang cukup untuk dipikul orang tua dalam menyekolahkan anak-anaknya.
Menuntut ilmu di bidang Pendidikan Tata Busana / Pengembangan Fashion bukanlah tanpa tantangan, baik tantangan moral hingga materil menjadi sesuatu yang harus dihadapi. Biaya pendidikan per semester yang cukup tinggi dengan kemampuan financial yang serba pas-pasan dan biaya pembelian bahan praktek yang jumlahnya tidak sedikit turut memberi warna dalam kegiatan belajar saya.
Orang tua yang bertekad untuk menyekolahkan anak-anaknya ke jenjang yang lebih tinggi menjadi tantangan besar untuknya dalam melewati hari demi hari pemenuhan kebutuhan hidup kami sekeluarga.  Ada dua beban biaya per semester yang harus orang tua tanggung, belum lagi biaya hidup harian kedua anaknya yang sebagai perantau. Kehidupan sederhana dan prihatin menjadi didikan orang tua sejak dulu. Walaupun harus dengan berhutang untuk memenuhi kebutuhan hidup kami, orang tua tetap bertekad pendidikan tinggi bagi anak-anaknya.
Berlatar belakang keluarga yang sederhana mendidik diri saya untuk terus mengembangkan potensi wirausaha. Terus berusaha meski sering jatuh. Bidang fashion merupakan bidang yang saya tekuni, sesuai dengan pendidikan yang sedang saya tempuh.
Menjadi guru SMK Tata Busana adalah goal dari pendidikan S1 saya ini. Banyak kemampuan dan kompetensi dasar yang harus di gali dan dipersiapkan untuk menjadi guru. Mendidik bukanlah perkara mudah, namun bukan juga perkara yang tidak dapat dilakukan, semua berdasarkan kemauan dan kerja keras.
Dibesarkan dilingkungan guru menjadikan saya sedikit tahu tentang kependidikan sebelum akhirnya belajar dengan massif di universitas ini. Menjadi pengajar yang berwirausaha adalah cita cita saya. Guru / dosen yang inspiratif karena pengalaman hidupnya mampu memberi pendidikan, tauladan dan motivasi tersendiri bagi anak didiknya. Belajar keterampilan menjahit, craft, dan keterampilan tangan lainnya di kampus, menjadi bekal untuk saya yang juga dapat mengajar di lingkungan non formal, baik untuk ibu-ibu rumah tangga maupun remaja.
Di dalam agenda mata kuliah kampus, ada hal menarik yang juga saya pelajari yaitu bagaimana memanajemen banyak hal dalam industry bidang fashion, seperti konveksi dan garmen. Memilih garmen sebagai tempat PKL/magang bukanlah tanpa alasan. Alasan utama adalah agar saya dapat belajar secara langsung bagaimana setiap bagian pekerja di garmen menjalankan fungsinya. Dan besar harapan saya dikemudian hari mampu memilki garmen yang dapat menjadi mata pencaharian bagi masyarakat sekitar
Pelatihan kepemimpinan, kewirausahaan, hingga parenting, dengan senang hati saya ikuti sungguh-sungguh. Hal itu merupakan kebutuhan wajib saya sebagai saya yang akan mewujudkan banyak hal. Bukan hal besar pengabdian diri saya ini, tetapi akan menjadi konstribusi terbesar saya saat mampu memberi sedikit solusi bagi permasalahan masyarakat Indonesia.


Keyword : Baituzzakah Pertamina , Beasiswa Bazma 2016, Scholarship Baituzzakah Pertamina